Gue sangat bangga beragama Islam, meskipun terkadang gue menjadi manusia yang khilaf akan kesalahan. Salah satu yang membuat bangga adalah rasa persatuan yang dimiliki Islam. Namun gue rada kecewa dengan beberapa kelompok umat Islam yang menyebutnya dengan golongan Muhammadiyah dan golongan NU (Nadhlatul Ulama). Beberapa tahun kemarin mereka selalu berselisih paham dengan penanggalan awal Ramadhan dan jatuhnya hari raya Idul Fitri. Padahal agama yang mereka anut sama-sama Islam tetapi mengapa harus beda dalam menjalankan ibadah wajib yaitu puasa di bulan Ramadhan.
Bisa dikatakan hal itulah yang membuat integritas Islam semakin meregang. Gak heran kalo sekarang banyak aliran baru yang mengatasnamakan Islam namun mebelotkan akidah dengan tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai rasul terakhir. Sehingga tawuran antar umat Islam sendiri tidak dapat dihindarkan. Dengan menyerang masjid aliran Ahmadiyah. Miris ngeliatnya. Sama sama make sarung, baju koko, mukena tapi tawuran ckck
Coba deh liat surat Al Baqoroh ayat 142
“orang orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata : “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya? Katakanlah : “Kepunyaan Allah lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”
Ayat ini tentang pemindahan kiblat yaitu di waktu Nabi Muhammad saw berada di mekah di tengah-tengah kaum musyrikin beliau berkiblat ke Baitul Maqdis. Tetapi setelah 16 atau 17 bulan Nabi berada di Madinah di tengah-tengah orang Yahudi dan Nasrani beliau di suruh Tuhan untuk mengambil Ka’bah menjadi kiblat, terutama sekali untuk memberi pengertian bahwa dalam ibadat shalat itu bukanlah arah Baitul Maqdis dan Ka’bah itu menjadi tujuan, tetapi menghadapkan diri kepada Tuhan. Untuk PERSATUAN umat Islam, Allah menjadikan Ka’bah sebagai kiblat
Ya seenggaknya buat golongan NU dan Muhammadiyah sendiri kenapa gak sama dalam memutuskan penanggalan jatuhnya Ramadhan. Emang beda ya kalender hijriyahnya?. Untungnya, tahun ini dua golongan ini gak meributkan hal kayak gini lagi (Alhamdulillah :D). Islam itu persatuan dan perdamaian . Kuatkan tubuh Islam dengan integritas yang kokoh, sama berukun Iman, berukun Islam, satu ihsan
Sabtu, 28 Agustus 2010
Cita-cita , the hidden motivator

Setiap sore sebelum berbuka puasa, seperti biasa salah satu televisi swasta di Indonesia menayangkan kartun produksi Malaysia yang mengisahkan kehidupan sehari-hari dua bocah kembar yang comeeeelnye (read:lucu). Kisah pada episode Selasa sore itu, si upin dan ipin (dua bocah kembar) tersebut ditugasi menggambar sebuah profesi yang mereka inginkan saat mereka dewasa. Si Ipin tiba-tiba mencetus ke saudara kembarnya dan menanyakan sebenarnya fungsi dari cita-cita, “Upin , mengape stiap orang meski punye cite-cite?”(gaya ngomong siti nurhaliza). Mendengar pertanyaan Ipin tersebut terbesit dipikiran kita, ada benarnya pertanyaan Ipin sebenarnya seberapa penting cita-cita di hidup kita.
Cita – cita bagi sebagian orang hanya sebagai jawaban jika ditanya “emang maunya jadi apa nanti?”. Besar atau kecil cita-cita itu bisa jadi motivasi untuk mencapai tujuan hidup yang lebih terdefinisi . Mungkin cita-cita memang selalu berubah dari kecil sampe dewasa.
Setiap individu ada yang selalu berubah cita-citanya sampai bahkan ada yang memiliki cita-cita tetap sejak umur 5 tahun hingga dewasa. Meskipun cita-cita selalu berubah ternyata secara tidak langsung menyadarkan bahwa karena cita-cita itulah yang membuat kita merasa perlu dan harus untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan cita-cita yang diinginkan.
Berikut beberapa tips yang dipaparkan oleh motivator kelas dunia Anthony Robbins untuk membuat pendengarnya semakin mendekati gerbang kesuksesan, dia menyebutnya dengan “Ultimate Success Formula”
1. Clear direction, Kalau kita ingin memiliki semangat serta daya juang yang tinggi, tujuan serta cita-cita kita harus diperjelas. Cita-cita serta arah ini pun akan menjadi daya tarik yang kuat bagi kita. Tatkala kita mengalami jatuh dan bangun, kejelasan akan cita-cita kita ke depan kitalah yang akan membuat kita tetap tegar berdiri.
2.Make decision, Banyak orang yang mempunyai cita-cita, tetapi sedikit sekali yang berhasil mencapainya. Mengapa? Alasannya sederhana. Tidak banyak orang yang benar-benar mengambil tindakan. Banyak orang ragu dan tidak yakin pada kemampuan diri sendiri dalam mewujudkan mimpi-mimpinya itu. Untuk itulah, make decision mendorong kita untuk membuat keputusan mengambil suatu langkah, entah seberapa kecil, asalkan semakin membawa kita kepada tujuan kita.
3. Aware result, Langkah-langkah yang kita ambil, punya dua kemungkinan. Semakin mendekati atau justru semakin jauh dari cita-cita kita. Karena itu, pentinglah bagi kita untuk membangun suatu radar yang membuat kita terus-menerus sadar, apakah langkah kita semakin membawa kita pada tujuan ataukah tidak.
4. Flexibel approach, Inilah langkah terakhir kita, yakni keinginan untuk terus-menerus memperbaiki proses maupun metode kita hingga akhirnya membawa kita pada tujuan. Tahap ini membutuhkan kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menyesuaikan dan mengubah cara yang dipakai saat ini. Khususnya, kalau cara tersebut membawa pada kegagalan.
Thomas Alva Edison adalah manusia dengan fleksibilitas dan kegigihan luar biasa untuk terus-menerus mengubah metode dan caranya hingga cita-citanya berhasil. Hal ini segera mengingatkan kita untuk senantiasa mau mengubah dan fleksibel saat cara kita belum berhasil. Janganlah kita terburu-buru untuk mengubur mimpi dan cita-cita saat segalanya belum berjalan sesuai rencana. Mungkin, kita harus mencoba beberapa langkah lagi dan mengubah metode maupun pendekatan kita.
Melihat tips tersebut mengingatkan kita untuk memperjelas cita-cita dalam hidup ini, karena peran cita-cita yang dapat memompa hidup seseorang untuk meraih kesuksesa, tanpa disadari mengambil andil yang begitu besar untuk mendefinisikan hidup yang lebih berarti untuk lingkungan sekitarnya.
Minggu, 22 Agustus 2010
first :)
ADHI NUGROHO
nama bagus, bagus juga orangnya
maybe you are first but not until the last :D
distance, is a shit things
but i'm happy ever being yours, thankyouusomuch :)))
nama bagus, bagus juga orangnya
maybe you are first but not until the last :D
distance, is a shit things
but i'm happy ever being yours, thankyouusomuch :)))
Rabu, 28 Juli 2010
Menyikapi kuatnya Neoliberalisme di negri Pancasila
PS : tulisan ini dibuat pas ada tugas ilmu politik semester 1, kalo salah sarnnya ya:)
Oleh :Annisa Nidya Hapsari *
Sebelum melihat kenyataan – kenyataan yang terjadi di Indonesia, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa arti dari neoliberalisme itu?. Neoliberalisme adalah suatu paham yang menganut bahwa campur tangan pemerintah haruslah sekecil mungkin tetapi tidak bias mengelak bahwa ada paham lain yang mengharuskan pemerintah untuk turun tangan dalam urusan Negara tersebut. Bisa dikatakan bahwa neoliberalisme adalah paham yang luarnya demokrasi tetapi dalamnya liberal. Paham ini lahir dari sebuah anggapan bahwa manusia merupakan makhluk yang cenderung egoistik yaitu selalu mengejar kepentingan dirinya sendiri untuk memperoleh manfaat sebesar – besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Dalam hal tersebut sebisa mungkin meminimalisasi campur tangan pemerintah sehingga dengan sendirinya terjadi efisiensi dan pemerataan. Sehingga tidak sedikit para competititor yang mematikan competititor lainnya dengan cara – cara yang tidak halal.
Ada beberapa kebijakan di Indonesia yang telah di buat oleh kaum neolib. Pertama, Jalan bebas hambatan atau biasa disebut jalan tol. Pembangunan infrastruktur tersebut tidak dibangun oleh pemerintah negeri in melainkan para investor asing. Pembukaan kesempatan bagi investor asing untuk membangun jalan “bebas hambatan” tetapi yang menghambat biaya tersebut, beralasan untuk memberikan pelayanan bagi rakyat, nyatanya rakyat justru tercekik dengan tariff tol yang selalu naik. Sekedar info, bahwa di luar negeri, jalan apapun yang semacam jalan tol itu bebas biaya dan siapaun boleh menggunakannya.
Kedua, Subsidi BBM yang belakangan ini di gembor – gemborkan. Dengan statement bahwa subsidi BBM adalah untuk rakyat. Namun sebaliknya, kaum neolib paling tidak rela kalau penjualan BBM ke rakyat dengan harga rendah. Padahal notabene-nya BBM tersebut milik rakyat itu sendiri. Sehingga BBM tersebut dijual dengan harga tinggi dan harus mematuhi mekanisme pasar asing untuk barang yang dimilkinya sendiri. Dengan kebijakan ini, kaum neolib tidak peduli apakh rakyat menjadi miskin atau tidak. Ini jelas bertentangan dengan Undang – undang dasar ’45 yang menjamin kemakmuran bagi tiap –tiap penduduknya.
Ketiga, tentang minyak yang sejak dulu 90 % dari hasil produksi minyak di Indonesia di eksploitasi oleh pihak asing. Dengan alasan kaum neolib, bahwa kita tidak mampu menggarapnya sendiri. Jelas saja, negeri ini tidak pernah merasakan kemakmuran seperti apa yang disebut – sebut sebagai negara yang kaya akan sumber daya.
Masih ada beberapa realitas tentang keberadaaan neoliberalisme di Indonesia yang tidak bisa jabarkan karena terlalu luas.
Indonesia adalah sebuah negara yang dikenal memiliki sistem kenegaraan demokrasi yang berlandaskan Pancasila. Namun, kenyataan sehari-hari yang kita lihat bukanlah suatu sistem dari rakyat untuk rakyat, melainkan suatu sistem penekanan yang „mencecer“ para rakyat.
Mulai dari pembukaan kesempatan sebesar – besarnya kepada para investor asing sampai beberapa kebijakan yang cenderung merugikan rakyat. Ini jelas tidak menunjukkan sistem demokrasi kerakyatan yang kita anut. Selebihnya, kebijakan – kebijakan tersebut sangat bertentangan dengan sila yang terdapat dalam Pancasila khususnya sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, dan sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Jelas saja, angka kemiskinan yang seharusnya dikurangi tetapi terus bertambah.
Isu tentang neoliberalisme semakin menguat dengan terpilihnya wakil presiden Republik Indonesia, Boediono. Seperti yang kita ketahui beliau pernah menjabat sebagai Kepala Bappenas dan Menteri keuangan periode 2001 – 2004. Selama menjabat beliau dikenal sebagai salah satu penganut neoliberalisme.
Contohnya,ketika Budiono mengatakan negara harus intervensi sesugguhnya hal tersebut bukanlah sebuah penangkalan yang utuh atas dugaan bahwa dirinya bukan penganut Neolib. Tidak ada negara di dunia ini yang sama sekali tidak melakukan intervensi dalam ekonomi.
Persoalannya bukan terletak hanya pada perlunya intervensi negara dalam ekonomi. Melainkan kepada kelompok masyarakat mana kebijakan intervensi itu diarahkan.
Kemudian ketika Boediono menjadi Kepala Bappenas. Dalam masa itu terkucurlah dana rekap perbankan Rp 600 triliun. Ironisnya, para obligor BLBI justru diberikan Release and Discharge alias dibebaskan dari masalah hukum.
Kita juga tidak lupa. Tahun 2001-2004 ketika Boediono menjadi Menteri Keuangan. Keluarlah kebijakan privatisasi dan divestasi yang tidak terkontrol.
Inilah sebuah paham yang menghalalkan segala cara. Yang kuat dia yang menang.Yang berduit dia yang berkuasa. Penjualan aset yang bukan miliknya hanya demi kepentingan individualistik merupakan cerminan bahwa manusia adalah homo economicus yang bersifat egosentris.
Menyikapi hal ini, sebaiknya generasi sekarang mengerti bagaimana keadaan negara Indonesia saat ini mulai dari hilangnya jati diri bangsa sampai perubahan sistem ekonomi maupun kenegaraan sehingga untuk kedepannya kita dapat menegakkan negara Indonesia dan melandasi kembali Pancasila yang sempat terkurung oleh kekuatan Neoliberalisme
sumber :
www.koraninternet.com
www.detik.com
* Penulis adalah seorang mahasiswi prodi Ilmu Komunikasi fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Oleh :Annisa Nidya Hapsari *
Sebelum melihat kenyataan – kenyataan yang terjadi di Indonesia, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa arti dari neoliberalisme itu?. Neoliberalisme adalah suatu paham yang menganut bahwa campur tangan pemerintah haruslah sekecil mungkin tetapi tidak bias mengelak bahwa ada paham lain yang mengharuskan pemerintah untuk turun tangan dalam urusan Negara tersebut. Bisa dikatakan bahwa neoliberalisme adalah paham yang luarnya demokrasi tetapi dalamnya liberal. Paham ini lahir dari sebuah anggapan bahwa manusia merupakan makhluk yang cenderung egoistik yaitu selalu mengejar kepentingan dirinya sendiri untuk memperoleh manfaat sebesar – besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Dalam hal tersebut sebisa mungkin meminimalisasi campur tangan pemerintah sehingga dengan sendirinya terjadi efisiensi dan pemerataan. Sehingga tidak sedikit para competititor yang mematikan competititor lainnya dengan cara – cara yang tidak halal.
Ada beberapa kebijakan di Indonesia yang telah di buat oleh kaum neolib. Pertama, Jalan bebas hambatan atau biasa disebut jalan tol. Pembangunan infrastruktur tersebut tidak dibangun oleh pemerintah negeri in melainkan para investor asing. Pembukaan kesempatan bagi investor asing untuk membangun jalan “bebas hambatan” tetapi yang menghambat biaya tersebut, beralasan untuk memberikan pelayanan bagi rakyat, nyatanya rakyat justru tercekik dengan tariff tol yang selalu naik. Sekedar info, bahwa di luar negeri, jalan apapun yang semacam jalan tol itu bebas biaya dan siapaun boleh menggunakannya.
Kedua, Subsidi BBM yang belakangan ini di gembor – gemborkan. Dengan statement bahwa subsidi BBM adalah untuk rakyat. Namun sebaliknya, kaum neolib paling tidak rela kalau penjualan BBM ke rakyat dengan harga rendah. Padahal notabene-nya BBM tersebut milik rakyat itu sendiri. Sehingga BBM tersebut dijual dengan harga tinggi dan harus mematuhi mekanisme pasar asing untuk barang yang dimilkinya sendiri. Dengan kebijakan ini, kaum neolib tidak peduli apakh rakyat menjadi miskin atau tidak. Ini jelas bertentangan dengan Undang – undang dasar ’45 yang menjamin kemakmuran bagi tiap –tiap penduduknya.
Ketiga, tentang minyak yang sejak dulu 90 % dari hasil produksi minyak di Indonesia di eksploitasi oleh pihak asing. Dengan alasan kaum neolib, bahwa kita tidak mampu menggarapnya sendiri. Jelas saja, negeri ini tidak pernah merasakan kemakmuran seperti apa yang disebut – sebut sebagai negara yang kaya akan sumber daya.
Masih ada beberapa realitas tentang keberadaaan neoliberalisme di Indonesia yang tidak bisa jabarkan karena terlalu luas.
Indonesia adalah sebuah negara yang dikenal memiliki sistem kenegaraan demokrasi yang berlandaskan Pancasila. Namun, kenyataan sehari-hari yang kita lihat bukanlah suatu sistem dari rakyat untuk rakyat, melainkan suatu sistem penekanan yang „mencecer“ para rakyat.
Mulai dari pembukaan kesempatan sebesar – besarnya kepada para investor asing sampai beberapa kebijakan yang cenderung merugikan rakyat. Ini jelas tidak menunjukkan sistem demokrasi kerakyatan yang kita anut. Selebihnya, kebijakan – kebijakan tersebut sangat bertentangan dengan sila yang terdapat dalam Pancasila khususnya sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, dan sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Jelas saja, angka kemiskinan yang seharusnya dikurangi tetapi terus bertambah.
Isu tentang neoliberalisme semakin menguat dengan terpilihnya wakil presiden Republik Indonesia, Boediono. Seperti yang kita ketahui beliau pernah menjabat sebagai Kepala Bappenas dan Menteri keuangan periode 2001 – 2004. Selama menjabat beliau dikenal sebagai salah satu penganut neoliberalisme.
Contohnya,ketika Budiono mengatakan negara harus intervensi sesugguhnya hal tersebut bukanlah sebuah penangkalan yang utuh atas dugaan bahwa dirinya bukan penganut Neolib. Tidak ada negara di dunia ini yang sama sekali tidak melakukan intervensi dalam ekonomi.
Persoalannya bukan terletak hanya pada perlunya intervensi negara dalam ekonomi. Melainkan kepada kelompok masyarakat mana kebijakan intervensi itu diarahkan.
Kemudian ketika Boediono menjadi Kepala Bappenas. Dalam masa itu terkucurlah dana rekap perbankan Rp 600 triliun. Ironisnya, para obligor BLBI justru diberikan Release and Discharge alias dibebaskan dari masalah hukum.
Kita juga tidak lupa. Tahun 2001-2004 ketika Boediono menjadi Menteri Keuangan. Keluarlah kebijakan privatisasi dan divestasi yang tidak terkontrol.
Inilah sebuah paham yang menghalalkan segala cara. Yang kuat dia yang menang.Yang berduit dia yang berkuasa. Penjualan aset yang bukan miliknya hanya demi kepentingan individualistik merupakan cerminan bahwa manusia adalah homo economicus yang bersifat egosentris.
Menyikapi hal ini, sebaiknya generasi sekarang mengerti bagaimana keadaan negara Indonesia saat ini mulai dari hilangnya jati diri bangsa sampai perubahan sistem ekonomi maupun kenegaraan sehingga untuk kedepannya kita dapat menegakkan negara Indonesia dan melandasi kembali Pancasila yang sempat terkurung oleh kekuatan Neoliberalisme
sumber :
www.koraninternet.com
www.detik.com
* Penulis adalah seorang mahasiswi prodi Ilmu Komunikasi fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Langganan:
Postingan (Atom)